Minggu, 01 November 2015

Story of Astral Projection




Pusing!!!
itulah yang kurasakan belakangan ini, masalah yang membuatku selalu terjungkir.
***
Kuhirup aroma kopi didepanku, dan sesekali juga aku menyeruputnya.
Begitu aku sudah cukup tenang, aku memutar playlist di hp ku, cukup kencang karena keadaan rumahku memang sedemikian sepinya.
Beberapa lagu heavymetal yang cukup keras setidaknya bisa menenangkanku.
Kulihat jam pada dinding, yang menunjukkan pukul 4 sore.
***
Suasana rumah cukup ramai malam ini karena memang aku memiliki 3 adik yang cukup meresahkanku.
Mungkin masalahku adalah aku kena point BP/BK disekolahku tadi, jadi hari ini aku cukup memiliki masalah. Tapi selain itu sebelumnya aku juga bertengkar dengan mamaku, sehingga aku malas keluar kamar, dan jika mamaku keluar dari rumah baru aku keluar dari kamarku, karena untuk beberapa hari aku tidak ingin melihatnya.
Saat disekolah tadi aku hanya membela temanku untuk melabrak adik kelasnya, tapi kenapa aku juga ikut kena point? Dasar!
aku yang sedari tadi di kamar sambil melamun, tiba-tiba rasa kantuk menyerangku begitu saja, tapi aku tidak bisa tidur, karena tadi sore aku meminum kopi hanya untuk menenangkan pikiranku,
Hingga aku melihat tubuhku sendiri sedang tidur...
Cukup lama aku membaringkan tubuhku, agar aku segera tidur..
Dalam sekejap, diriku kembali terbangun. Aku merasa tubuhku yang sekarang jauh lebih enteng. Ingin rasanya aku ke belakang mencari sesuatu, agar secepatnya aku dapat tertidur pulas. Dan memimpikan sesuatu yang indah.
Sepi.. itu yang kulihat setelah keluar kamar. Padahal pintu kamarku terbuka lebar, dan aku rasa ini sudah tengah malam. Tapi bukankah tadi masih ramai dengan keluargaku? Entahlah..
Kulirik jam didinding, yang menunjukkan pukul 11.28 malam,
Aku mengurungkan niatku untuk mencari sesuatu dibelakang, dan kembali kekamar untuk mencoba tidur lagi. Sebelum itu, entah mengapa terdengar sesuatu yang bising dari luar rumah, entah suara-suara orang sedang menyapa, bercakap ria, atau apapun itu sehingga terdengar ramai, ada juga suara gerakan kaki, entah sedang berlari atau hanya berjalan semata.
Namun ketika aku menampakkan batang hidungku di kamar aku dapat melihat beberapa orang -sepertinya sedang berkumpul. Tapi kenapa mereka ada dikamarku dan siapa mereka? Tak ada satupun dari mereka yang dapat kukenali.
Pakaiannya serba putih dan rambut hitam panjang, seperti kuntilanak. Tapi sepertinya mereka melihat kearah tempat tidurku, sehingga mereka memunggungiku. Karena kalut oleh penasaran aku ikut mencoba mendatanginya.
Dari sudut mataku aku bisa merasakan mereka semua melihatku, tapi kuacuhkan mereka karena aku memang kalut oleh penasaran.
'Hahhh?' Kejutku tak percaya dalam hati..
Apa itu? S-siapa itu..?
Aku melihat diriku sendiri sedang tidur?
Lalu aku ini apa?
Aku setengah tak percaya. Dan akupun teringat.
Aku menundukkan kepalaku guna melihat tubuhku. Aku rasa sama saja. Tapi...
Kakiku?
Kenapa kakiku tidak menempel pada lantai?
Apa aku telah mati? Bagaimana jika orang tuaku tau?
Aku cemas, tapi semua perasaan itu kuacuhkan. Biarkan saja! Desisku.
Aku kembali keluar kamar, dan mengacuhkan orang-orang tadi yang sepertinya memandangiku bingung.
Kulihat mamaku dan adik-adikku yang tertidur pulas, dikamar sebelah yang cukup besar, karena dapat menampung lima orang lebih dalam kamar tersebut.
Kulihat keadaan sekitarku yang sepi entah berantah, rumahku benar-benar sepi. Dan sepertinya papaku juga belum pulang. Ya! Memang dia selalu sibuk oleh pekerjaannya. Entah keluar kota atau sedang bertemu santai dengan partner-partner kerjanya.
Aku ingin keluar dari rumah, dan.. Aku bisa menembus dinding ruang tamuku.
Pasrah!
Itulah kondisiku sekarang.
Hingga aku tersadar, sedari tadi tubuhku sedang melayang,
Lalu kulihat seorang gadis seumuran denganku, tapi pakaiannya tetap sama seperti orang-orang yang menatapku dikamar tadi.
Tiba-tiba dia mengajakku bermain, hingga kami terbang melayang-layang kegirangan. Dia tertawa sangat senang sekali dibandingkan diriku saat ini. Tentu saja! Lihatlah kondisiku sayang. Suara tawa yang sangat nyaring untuk didengar. Benar-benar, gadis itu ingin membuatku tuli muda.
Aku tetap tidak peduli siapa dia, yang pasti aku bisa merasakan kesenangan ku kembali. Walau tidak seperti biasa.
Aku benar-benar dapat melayang kesana kemari walaupun tak terlalu tingga, sungguh seperti mimpi, aku yakin ini bukanlah mimpi belaka, ini benar-benar terjadi!
Dan aku tidak akan pernah melupakan pertama kalinya aku bisa melayang dan terbang. Kurasa tubuhku terbuat dari angin ataupun gas, karena ringan sekali seperti tanpa beban sedikitpun. Bahkan aku tidak sadar aku akan dibawa kemana olehnya.
Aku tak mengerti sama sekali, arti senyuman gadis yang tengah mengajakku terbang tadi. Senyum yang membuat ku agak ngeri namun berarti.
Aku mengacuhkannya. Sepertinya senyum gadis itu terlihat bahwa aku sekarang adalah sohibnya, temannya, atau apalah itu.
Wajahnya normal seperti kebanyakan gadis diusiaku, tapi dia sangat aneh. Mulai dari tawanya, mukanya yang pucat, rambutnya yang messy namun panjang, dan pakaiannya yang seperti hanya terbuat dari kain putih polos. Bahkan tak ada hiasan yang melekat sedikitpun di bajunya. Kuharap dia memiliki selera yang tinggi.
Berasa kalau ia sedikit tak jauh mirip dengan kuntilanak yang biasa aku lihat di TV. Namun wajahnya benar-benar berbeda dengan apa yang TV tampilkan biasanya.
Wajah itu...
Menyiratkan kepedihan, keputusasaan, kekecewaan. Sebuah kesedihan yang mendalam, tapi tak menyiratkan perasaan dendam apapun. Aku tau ia gadis yang baik. Aku dapat merasakan aura tenangnya.
Aku jadi ragu untuk bertanya. 'Siapa dia sebenarnya?' Tapi kuacuhkan saja pertanyaan itu. Mungkin sebaiknya aku menemaninya, karena aku bisa melihat bahagianya ia ketika melayang dengaku tadi.
Aku merasa iba bila mengacuhkannya...
***
Kembali ke rumahku yang sudah pasti sama seperti semula, di ruang tamu terlihat jendela yang terbuka mompong-melompong, terlihat orang yang berlalu lalang di sebelah rumahku karena jendela yang terbuka itu.
Padahal jalan itu hanya perbatasan antara rumahku dengan rumah sebelah, dan sering juga dilewati pemilik rumah sebelah untuk ke rumah belakang, atau rumah anaknya.
Daripada aku tidur penasaran, kuhampiri jendela itu, dan..
Duggg! Jantungku hampir copot hingga ingin meluncur ke perut lalu keluar dari anus.
Pp-pocong!!!
Pocong itu melihatku bingung,
Wajahnya....
Tidak semengerikan, kurasa sedikit mirip zombie yang pernah kulihat di TV, atau mayat hidup lainnya. Dan tak ada luka satupun yang menempel pada wajahnya.
Dia seperti mengintimidasi diriku,
Kulihat lekat-lekat wajahnya, sekitar matanya agak kehitaman, dan tatapannya sendu. Seolah-olah ia berpasrah dalam hidupnya.
Wajahnya pucat kelam,
Wajah itu seperti gadis yang mengajakku tadi.
Menyiratkan kesedihan mendalam.
Aku tak bisa berkata apa-apa,
Namun tiba tiba saja dia menghilang,
Dan! Entah bagaimana keadaan gadis tadi. Aku sudah tak ingat apapun selain masuk ke rumah barusan.
Aku kembali melihati isi rumahku yang begitu sepi.. yang hanya berisikan suara cicak dan derap langkah orang-orang lewat yang berada disebelah rumah.
***
Entah dimana keberadaanku sekarang aku tak ingat apa-apa lagi dengan aktivitasku tadi,
Kurasa ini bukanlah dunia yang biasa aku tinggali. Karena berbeda sekali susananya dengan bumi. Aku tahu aku ada di dimensi lain. Mungkinkah alam mimpi? Alam bawah sadar? Entahlah.
GERSANG,
SUASANA PETANG,
Kurasa suasana selalu seperti ini,
Aku tak melihat matahari sama sekali dilangit. Bahkan aku mencari-cari arah sinar matahari, namun tetap saja hasilnya NIHIL.
Aku berjalan gontai seraya melihat-lihat sekeliling, seperti kota mati. Tidak! Tapi seperti sebuah padang yang tandus dan mati.
Hingga aku berhenti di sebuah pertikungan jalan. Jalan itu tak beraspal. Sekiranya seperti jalan setapak di gunung-gunung. Hanya saja tanaman disini semuanya mati dan selebat apa yang seperti digunung.
Aku hanya bingung melihat kedua jalan tersebut. Karena hanya ada dua jalan didepanku.
kiri dan kanan
Aku melihat ada sebuah tiang usang tak jauh disebrang depanku, anehnya tiang itu menunjukkan bahwa,
Neraka ada di kanan
Surga ada di kiri
Aku heran! Kenapa terbalik? Bukankah ajaran selalu bilang bahwa kananlah yang lebih utama.
Aku mengingat kejadian tadi, ketika aku melihat tubuhku sendiri tidur dengan pulasnya dan tak terlihat beban diwajahnya secuilpun.
Mungkinkah!??? Aku meninggal?
aku belum siap mati!
aku mengingat kedua orang tuaku, dan adik-adikku. Membayangkan mereka yang kehilangan diriku,
Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.
Yang kungingkan hanyalah mereka, keluargaku. Keluarga kecil yang bahagia, walau pertengkaran sering berkunjung, namun merekalah keluargaku. Aku hanya tak mau mereka sedih karena hilangnya sosokku.
Aku menyesal!
sangat menyesal,
Ingin aku kembali melihat mereka, dan aku tidak akan membantah lagi pada orang tuaku,
Tapi NIHIL!
tidak ada yang sanggup mendengarkanku!
Hingga aku merasa sesuatu menarikku. Energi yang sangat kuat menarikku. Energi yang dahsyat. Aku tak sanggup memebrontak melawannya. Karena percuma energi itu tak dapat kutepis sama sekali.
Tubuhku benar-benar tertarik!!!!
***
"hwahhhhhh!!!" Teriakku parau. Aku langsung terduduk dengan nafas yang tak beraturan. Ketika aku melihat ada mamaku yang membangunkanku,
Apa itu mimpi!?
Aku tidak peduli!
aku sangat senang bisa melihat mamaku lagi, aku tersenyum tipis melihatnya. Aku tau ia tidak dapat melihat senyumku ini. Ya karena aku juga tak ingin menunjukkan senyun tulusku, aku gengsi!
Sedetik kemudian, terasa tubuhku yang panas dingin, dan bulu romaku yang berdiri seketika.
Seperti telah dikejar oleh sesuatu, yang amat sangat menkutkan. Ketika aku teringat kejadian tadi. Aku bangkit berdiri dari tempat tidur, dan menunduk untuk melihat kakiku..
Akhirnya!!!
Telapak kakiku menempel pada lantai!
kebahagiaanku sangat mendalam saat itu, beribu syukur kepada tuhan, Allah SWT...
Kemudian seperti biasa aku kembali melanjutkan aktivitas rutinku setiap pagi.
Aku merasa ketidaknyaman belakangan ini. Semacam entah sesuatu yang tak kasat indra membuntutiku dan mengawasiku sepanjang waktu. Namun segera kutepis  perasaan gelisah itu. Karena ini adalah momen yang menyenangkan bagiku.
Waktunya diriku berpesta bersama kawan-kawanku! Saat ini aku dan beberapa rekanku sedang menghadiri acara konser musik mingguan bergenre blackmetal di kotaku. Dan aku dan dua rekanku berada di tengah-tengah kerumunan orang yang ikut memeriahkan konser tersebut. Lalu sang vokalis menyuruh kami semua melakukan crop circle -semacam ritual konser deathcore- bersama. Aku dan temanku saling pandang kemudian bersama menyetujuinya.
Tidak peduli kebanyakan yang ikut serta adalah anak laki-laki. Lalu aku segera menyahut dan menggandeng sebelah kanan lengan dari salah temanku dan sebelah kiri lengan orang lain dan ia  adalah seorang cowok berbadan besar namun tak sberapa tinggi dan menggunakan kaus kedodoran gelapnya -sudah menjadi tradisi anak metal- dan aku tidak peduli tampangnya yang kelihatannya memiliki smirk diwajah bundarnya itu.
Yang penting sekarang aku harus bersenang-senang! Kedua temanku dan aku saling pandang satu sama lain. Lalu putaran dimulai. Dengan vokalis yang memberi aba-aba. Aku terus-terusan berteriak -teriakan penuh sesal- dan berkomat-kamit tidak jelas berharap semoga aku diberkati nantinya.
Putaran berhenti dengan cara melepaskan pegangan satu sama lain. Rasanya kepalaku sangat pening dan aku seperti akan jatuh. Tapi tidak jadi. Karena ada tangan besar mengenai wajahku.Lalu apa gunanya aku tadi berkomat-kamit?
Bummm!
Aku hampir saja terguling walaupun aku masih seimbang. Akhirnya aku menjauh dari tawuran brutal bohongan itu. Walau bisa dibilang bohongan tetap saja wajahku sangat sakit akibat tawuran brengsek tersebut. Aku segera kembali menghampiri perkumpulanku yang tadi tidak ikut serta maju ke tengah-tengah konser. Kurasa mereka melihat dan menikmati konser dari jauh sambil leyeh-leyeh menikmati musiknya. Dasar!
Aku menghambur diantara perkumpulan mereka. Demi medusa! aku sudah kalut membopong tubuhku sendiri. Tiba-tiba terngiang suara asing yang sepertinya memanggilku. Dan kurasa suara tersebut berasal dari kepalaku sendiri.Oh! apa Tuhan akan segera menjemputku kali ini? ayolah hanya pipiku yang berubah menjadi terong! apa aku harus segera mati?
Aku tidak peduli lagi mau aku mati atau hanya pingsan atau bahkan mati suri.
Namun tiba-tiba saja terasa sebuah aliran yang mengejutkan tubuhku, hingga samar-samar aku benar-benar tersadar. Kurasa sedari tadi aku mengigau. Dan apa temanku akan memaafkanku? karena sudah seenak jidat aku menghambur ke mereka.
"Ehh, sori-sori. Aku tadi cuma pusing" ucapku pada kumpulan teman-temanku itu.
"Ya tidur aja. Perasaan dari tadi kamu aku tanyain loh, tapi kenapa nggak jawab-jawab. Lah, setengah jam udah baru nyadar" ucap salah temanku lainnya. Yah kurasa dia berniat menyindirku.
"Sorry" ucapku lirih seraya tersenyum masam.
***
Dia hanya menatapku. Sepertinya meneliti setiap inci dari tubuhku. Ujung rambut hingga pucuk kuku kakiku. Aku merasa familiar dengannya. Tapi aku juga sedikit lupa dengannya.
Tiba-tiba ia tersenyum misterius. Dan ia seperti hologram yang tiba-tiba saja menghilang. Sebuah suara terdengar sendu dan agak cempreng memanggilku berkali-kali. Aku hanya menghiraukannya. Karena pikiranku masih kalut dengan sesosok tadi.
Lalu sebuah bisikan terdengar menyebutkan namaku. Bisikan lirih nan dingin. Dan terasa hembusan angin mula-mula menerpa telingaku hingga sampai kewajahku. Lalu samar-samar terlihat wajahnya yang pucat pasih sembari menampilkan seringai indah di bibir nan tipis itu.
Kemudian perlahan semua menjadi gelap gulita seperti semula.

 
(Lihat Wattpad saya untuk cerita atau informasi lainnya)
-nadyazaen.